Dahulu Sunyi, Kini Riuh: Menjaga Nalar di Era Infobensiana
Ruang kosong hari ini adalah kemewahan yang langka. Dahulu, kesunyian adalah bagian alamiah dari keseharian manusia. Perjalanan panjang ditemani keheningan, ruang tunggu diisi lamunan, dan malam hari ditutup tanpa layar bercahaya. Kesunyian itu bukan hampa; ia adalah jeda bagi akal untuk merajut makna, merespons realitas dengan jernih, dan membiarkan jiwa bernapas.
Kini, sunyi telah punah. Riuh rendah informasi menginvasi setiap jengkal detik kehidupan kita melalui gawai. Istilah "infobensiana"—banjir informasi beracun yang mengaburkan kebenaran—kian nyata menggerus kewarasan mental dan spiritual. Setiap hari, jemari kita tanpa sadar menggulir lini masa, menelan ribuan informasi yang tidak diminta: opini emosional, berita duka yang dieksploitasi, perdebatan kusir, hingga pameran pencapaian semu.
Dalam perspektif Islam, akal (aql) bukan sekadar instrumen berpikir logis, tetapi amanah mulia untuk memahami tanda-tanda kekuasaan Allah (ayat) di alam semesta. Al-Qur'an berulang kali menantang manusia untuk menggunakan akalnya, merenung (tadabbur), dan memikirkan ciptaan-Nya. Namun, bagaimana mungkin akal bisa merenung jika ia terus-menerus dicekoki oleh sampah informasi yang bergerak cepat dan dangkal?
Krisis utama di era digital bukan lagi kekurangan data, melainkan kelebihan kebisingan yang memicu information fatigue syndrome—kelelahan mental akibat terlalu banyak asupan informasi. Ketika nalar terus-menerus dibombardir oleh narasi provokatif, pertahanan spiritual kita melemah. Hati menjadi keras, mudah reaktif, dan kehilangan kepekaan empati. Manusia modern menjadi sangat tahu tentang banyak hal di belahan dunia lain, tetapi asing terhadap keadaan batinnya sendiri dan tetangga di sebelah rumahnya.
Rasulullah SAW telah mengingatkan kita melalui sebuah sabda yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad: "Sesungguhnya di antara kebaikan keislaman seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak baginya." Di era infobensiana, hadis ini menemukan relevansi tertingginya sebagai panduan diet mental. Tidak semua informasi wajib dikonsumsi. Tidak semua perdebatan di media sosial wajib ditanggapi. Menjaga nalar di era digital berarti berani melakukan puasa informasi (digital detox).
Langkah awal menjaga kesehatan spiritual-digital adalah menyadari bahwa keterikatan berlebihan pada gawai adalah bentuk modern dari kelengahan (ghaflah). Ketika kita lebih takut ketinggalan tren berita ketimbang ketinggalan salat berjemaah atau tilawah harian, ada yang keliru dalam susunan prioritas hati kita. Kesunyian harus direbut kembali. Kita perlu menciptakan "zona bebas layar" di rumah, terutama pada sepertiga malam terakhir atau saat jeda salat lima waktu.
Ruang sunyi adalah tempat di mana Allah berbicara kepada hati yang tenang. Di saat riuh rendah dunia mencoba mendikte pikiran kita dengan kebencian dan kecemasan, kembali kepada kesunyian Al-Qur'an dan zikir adalah penawar paling mujarab. Al-Qur'an surat Ar-Ra'd ayat 28 menegaskan: "Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram." Ketenangan bukan ditemukan dengan memperbaharui lini masa, melainkan dengan memutus sementara sambungan duniawi dan menyambungkan kembali frekuensi hati kepada Sang Pencipta.
Sudahkah hari ini Anda memberikan hak pada akal dan hati Anda untuk menikmati kesunyian, atau mereka masih lelah terjebak dalam kebisingan dunia maya?