Dahulu Sunyi, Kini Riuh: Menjaga Nalar di Tengah Bising Media Sosial

Hening yang Hilang

Dahulu, sunyi adalah ruang kontemplasi. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam Madarij al-Salikin menekankan khalwat (menyendiri) sebagai pintu mengenal diri dan Tuhan. Kini, ruang itu dijajah notifikasi. Algoritma memicu hormon dopamin, menciptakan ketergantungan pada validasi eksternal. Jiwa kehilangan jangkar karena terus-menerus terpapar arus informasi yang tak henti.

Kebisingan sebagai Distraksi

Media sosial mengubah nalar menjadi reaktif. Islam mengajarkan tafakkur (berpikir mendalam) dan tadzakkur (mengingat). Namun, desain platform saat ini mendorong impulsivitas. Kita membaca judul, bukan isi; bereaksi, bukan merenungi. Kebisingan ini adalah bentuk "polusi spiritual". Ketika hati terlalu penuh dengan opini orang lain, suara fitrah (nurani) teredam.

Menjaga Nalar: Strategi Spiritual

  1. Detoksifikasi Digital (Uzlah Modern): Tetapkan waktu harian tanpa layar. Uzlah bukan berarti meninggalkan dunia, melainkan membatasi input agar nalar kembali jernih.
  2. Filter Informasi (Tabayyun): Al-Qur'an (QS. Al-Hujurat: 6) mewajibkan tabayyun. Jangan telan informasi mentah. Tanyakan: "Apakah ini menambah iman atau sekadar memicu amarah?"
  3. Fokus pada Esensi: Kurasi akun yang diikuti. Kurangi konten yang memicu Fear of Missing Out (FOMO) atau perbandingan sosial. Ganti dengan asupan ilmu yang mendekatkan pada tujuan akhir (akhirat).

Menemukan Kembali Sunyi

Ketenangan bukan berarti tidak ada kebisingan, melainkan memiliki kedamaian di tengah kebisingan. Rasulullah SAW sering menyepi di Gua Hira sebelum menerima wahyu. Itu adalah pelajaran bahwa untuk mendengar kebenaran, seseorang harus mampu menjauh dari riuh rendah duniawi.

Media sosial adalah alat, bukan tuan. Jika ia menguasai nalar, maka ia telah merusak fungsi manusia sebagai khalifah yang seharusnya menggunakan akal untuk membedakan hak dan batil, bukan sekadar menjadi konsumen konten yang pasif.

Refleksi

Sudahkah Anda hari ini menyisihkan waktu untuk "sunyi" tanpa ponsel, sekadar untuk bertanya pada diri sendiri: "Di mana posisi hati saya di hadapan Sang Pencipta saat ini?"